tHe mEaNs oF LovE

piet.jpg

MAKNA CINTA KITA

Begitu banyak insan muda jatuh cinta kepada lawan jenis lebih karena pesona keindahannya saja yang terlihat. Berdasarkan relita di dunia ini, perihal cinta dan mencintai mampu membutakan dan membuat tuli khususnya kaum muda yang sedang di landa hasrat cinta. Seorang penyair berkata “Cinta bukan karena keindahan dan yang tampak mata, tetapi cinta ada karena ia mampu meyatukan hati dan jiwa“ (wadduuu berat beud neght…^_^)

Hakikatnya cinta kepada lawan jenis ibarat cermin yang memantulkan pribadi dan karakter orang yang ia cinta. Tak jarang luapan dan ungkapan cinta yang ia berikan sama seperti cinta yang ia curahkan untuk dirinya sendiri.

Cinta yang tumbuh karena keselarasan dan rasa saling cocok menjadi akan kokoh dan kuat. Sebaliknya jika cinta yang hanya di latar belakangi tujuan tertentu akan luntur, berkurang seiring dengan memudarnya tujuan dan motivasi kelahiran cinta.

Cinta terhadap lawan jenis adalah naluri yang alami, dengan syarat tetap berjalan sesuai dengan tuntunan fitrah dan syariat. Namun yang terjadi seringkali sebaliknya. Hubungan yang mestinya berjalan sesuai fitrah ini berlangsung di luar kendali. Rambu-rambu syariat diabaikan. Maksiat bertebaran di setiap sisi mereka yang tengah menjalin cinta dan kasih sayang.

Allah mengajukan jalan keluar dengan mengingatkan seluruh hamba-Nya terutama para insan muda yang tengah di landa hasrat cinta dan kasih sayang dalam firman-Nya :

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita beriman agar mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya“ (QS an-Nur : 30-31)

Betapa indah Allah mengajarkan tetang kemurnian cinta. Allah menjadikan mata sebagai cermin hati. Sesorang yang menahan pandangannya dapat dikatakan telah menahan syahwat dan keinginan hati, dan hal tersebut bernilai jihad di hadapan Allah kelak, karena sesungguhnya musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Sebaliknya, orang yang selalu mengumbar pandangan mata tak dapat menahan syahwatnya maka di haramkan baginya mencium wanginya surga (Masya Allah…. Nauzubillah Ichhh ga banged dech… Astagfirullah… Ampuni diri ini Yaa Rabb >.<)

Cinta para sahabat Rasulullah SAW, lahir tidaknya syahwat hanya sekedar melalui pandangan mata. Tetapi cinta yang tercipta karena kekuatan iman, ia akan berjalan beriring dengan teguhnya pendirian tetang suatu kehidupan yang abadi dan cinta yang murni. Cinta yang ada di hati sepantasnya cinta yang bermanfaat dan bernilai bagi masa depan (so… jika cinta itu tidak bermanfaat bagi kehidupan kita saat ini dan masa yang akan datang, jangan ragu buwad meninggalkannya, meski sakit tapi percayalah Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik dan yang pastinya mampu membawa kemaslahtan bagi diri kita dan kehidupan kita di masa mendatang amien ^_^).

Ingatlah insan muda yang menanamkan cinta yang tulus dalam hatinya sebagai bagian dari syafaat yang akan ia peroleh kelak seperti yang dijelaskan dalam firman Allah “Siapa yang akan memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) daripadanya. Dan barangsiapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) daripadanya” (QS an-Nisa : 85)

(aduu… aduu.. ga mauw dech berhadapan dengan laknat Illahi Rabbi dan segala sesuatunya yang bernuansa penyiksaan… Sesungguhnya rasa malu dan takut pada dosa merupakan sebagian cermin dari keimanan diri kita ^_^)

Kebesaran cinta yang tulus dan tertanam kokoh pada diri Bilal bin Rabah tampak ketika Rasulullah SAW berpulang ke Rahmatullah. Saat masuk waktu shalat, Bilal berdiri mengumandangkan adzan. Sedangkan, jasad Rasulullah masih terbungkus dengan kain kafan dan belum dimakamkan. Pada saat itu, Bilal hanya mampu mengucapkan adzan sampai “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“. Setelah kalimat tersebut ia tidak mampu menyempurnakan adzan, ia hanya sanggup untuk menangis dan menangis, setelah tiga hari berlalu, Bilal baru mampu mengumandangkannya kembali panggilan adzan seperti semula. Walau setiap sampai pada kalimat yang mengingatkannya kepada orang yang paling dicintainya, Bilal selalu menangis hingga tak kuasa menyempurnakan adzannya. (Subhanallah… Bilal hamba ingin dapat mencintai Rasulullah seperti Bilal… Rabb)

Cinta seperti Bilal, yang mampu menghantarkan seorang muslim kepada makna cinta yang hakiki terhadap Allah SWT. Ia hanya mengharapkan balasan keridhaan dari Allah dan tidak memimpikan perihal yang lain, apalagi berharap orang tersebut membalas cintanya. (Subhanallah dech…^_^ ughttt pengen bangeeeedddssss). Taat kepada allah dan Rasul-Nya ibarat satu paket dalam membeli tiket menuju surga (its nice prend’s ^_^ I wanna it). Mengikari salah satu keduanya akan menjadikan seorang hamba menjadi bagian dari kekufuran “Katakanlah, Taatilah Allah dan Rasul-Nya! Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang fakir” (QS Ali Imran : 32)

Demikianlah makna cinta yang hakiki, cinta yang hanya ditujukan kepada Yang Maha Sempurna, Allah Azza Wa Jala. Cinta yang ditambatkan kepada keteladanan yang memiliki pribadi mulia dan akhlak yang tinggi beliau tidak lain adalah Rasulullah SAW.

Allah akan membalas cinta orang yang beriman dengan balasan cinta yang teramat besar. Inilah kenikmatan dalam mengapresiasikan cinta sesungguhnya. Orang yang berhasil mewujudkannya akan mendapatkan penghargaan tertinggi di akhirat kelak, ia berhak mendapat bangunan megah nan mewah di surge yang hamparannya seluas langit dan bumi, dan di dalamnya ia bersanding dengan bidadari surge. Tampaklah pemandangan sungai-sungai nan indah, semua penduduknya di baguskan rupanya seperti tampak pada akhlaknya masing-masing. Mungkinkah kita akan mengabaikan semua itu demi syahwat sesaat…?

2 Comments »

  1. Lex dePraxis Said:

    Tulisan yang menarik. Terima kasih sudah berbagi informasi. Jika ingin tahu lebih banyak lagi tentang Cinta, silakan baca artikel Butir-Butir Cinta di blog saya. Salam kenal, sobat.

    Lex dePraxis
    Romantic Renaissance

  2. anesachipiet Said:

    salam kenal juga^^
    makasi buad commentnya^^


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.